17 September 2008

Bagaimana McCain dan Obama Memandang Dunia?

Tulisan Fareed Zakaria selalu menarik untuk disimak. Termasuk artikelnya di majalah Newsweek (edisi Amerika) pekan ini, The World isn't So Dark. Zakaria mengulas cara pandang dua kandidat presiden Amerika, John McCain dan Barack Obama, terhadap dunia dewasa ini.
Zakaria mencatat sejumlah kesamaan pandangan dua politisi tersebut. Namun, terdapat perbedaan yang kentara. McCain dianggap mewakili kaum neo-konservatif. Dunia saat ini digambarkan sebagai tidak aman. "Islamic extremism" dan negara-negara yang mensponsorinya dipandang sebagai sumber ancaman utama. Kebangkitan Rusia, China, dan India dilihat potensial menimbulkan ketidakstabilan. Singkatnya, padangan McCain dapat dikategorikan sebagai pesimis.
Obama, sebaliknya, dianggap memiliki pandangan yang lebih optimis. Meski tidak mengingkari kenyataan bahwa dunia tidaklah seratus persen aman, Obama melihatnya dari sisi positif. Ia, misalnya, menghindari penggunaan istilah "Islamic extremism" dan menggantinya dengan kata Al-Qaeda. Juga dengan kesadaran bahwa kelompok teroris ini tidak mendapatkan dukungan dari mayoritas Muslim. Obama juga lebih suka memilih jalur dialog dibandingkan pendekatan militer.

Pilpres 4 November mendatang akan menjadi penentu pandangan siapa yang akan menjadi anutan rakyat Amerika. Kemenangan McCain akan melanggengkan cara pandang yang digunakan presiden saat ini, Bush. Sebaliknya kemenangan Obama membuka peluang terjadinya perubahan. Tidak hanya di Amerika, tetapi juga di belahan dunia lain.
Zakaria menyimpulkan bahwa pandangan Obama lebih tepat, baik dalam menggambarkan realita politik global saat ini maupun dalam menerjemahkan peran Amerika sebagai kekuatan besar.
Setujukah Anda dengan kesimpulan Zakaria?

Selanjutnya »»

11 September 2008

Dapat Surat Dari John McCain

Siang ini saya mendapatkan surat dari John McCain, calon presiden Amerika dari Partai Republik. Kok bisa? Pasti nama dan alamat saya sudah ada di database tim sukses McCain. Mungkin mereka mendapatkannya dari biro kredit atau dari perusahaan yang menerbitkan kartu kredit saya. Saya yakin, jutaan orang di Amerika juga mendapatkan surat serupa. Jadi, tidak perlu kaget.

Inti surat adalah permintaan sumbangan dana. Jumlahnya bebas. Mulai dari 25 sampai 1000 dolar. Meski cuma surat permintaan donasi, jumlah halamannya cukup banyak juga. Empat halaman.

Saya tergerak untuk membaca surat empat halaman itu. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana cara calon presiden mencari dana kampanye.

Surat dibuka dengan sapaan Dear Friend. Artinya, tambah lagi satu teman: John McCain. Halaman pertama memuat alasan mengapa McCain berkirim surat. Ia membutuhkan banyak dana untuk memenangi pemilu November nanti. Target dana yang terkumpul 30 hari ke depan adalah 10 juta dolar. Hm, banyak juga.

Halaman dua berisi serangan ke kubu Demokrat dan Barack Obama. Semakin menarik untuk dibaca. Dua isu utama dijadikan senjata oleh McCain: pajak dan Irak. McCain menulis seperti ini:

If liberals like Barack Obama, Harry Reid and Nancy
Pelosi control the White House, Congress and statehouse across this
country ...
... they will raise your taxes.
Sebaliknya McCain berjanji jika dirinya menang, pajak tidak akan dinaikkan.
Kemudian disinggung soal Irak. McCain menulis begini:
If the Obama Democrats and liberal organizations like MoveOn.org have their way,
our troops will be recklessly pulled out of Iraq and our enemies will be handed
a victory they have neither won nor deserve.
McCain menyebut jika Amerika keluar dari Irak maka "radical Islamic extremists" akan diuntungkan.

Halaman tiga mengungkap keinginan-keinginan yang hendak dicapai McCain jika terpilih sebagai presiden. Sekali lagi ia menyebut "radical Islamic extremists"di halaman ini. Halaman empat berisi penutup yang mengingatkan tujuan utama surat, yaitu meminta donasi.

Membaca surat tersebut, sangat terasa McCain menonjolkan kelompok liberal dan "radical Islamic extremists" sebagai ancaman. Terlihat jelas sosok McCain yang konservatif, jauh dari julukan Maverick yang selama ini disandang. Tampak juga bahwa McCain tidak menawarkan sesuatu yang baru, yang membedakannya dengan Bush.

Setelah surat ditutup dengan tanda tangan, ternyata masih ada halaman yang tersisa. Ditambahkan P.S. dengan penekanan bahwa agenda liberal kubu Demokrat adalah salah dan ajakan untuk bersatu menghentikannya. Juga diingatkan sekali lagi tentang permintaan sumbangan. Tidak perlu repot-repot, katanya, kerena amplop pengiriman telah disediakan.

Membaca sampai akhir surat, sayang sekali, saya memutuskan untuk tidak memberikan donasi. Selain kurang sreg dengan ide-idenya, anggarannya juga kagak ada. Lha wong lebaran ini juga kayaknya tidak ada ongkos untuk mudik, hehehe.... Sorry, John!

Selanjutnya »»

28 August 2008

Dari Indonesia Ke Illinois

Kalimat di atas adalah judul artikel di majalah Newsweek edisi pekan ini. Tidak salah, artikel tersebut mengulas Barack Obama. Maklum, minggu ini Partai Demokrat sedang menggelar hajat besar, konvensi partai di kota Denver, Colrado.

Hampir seluruh media menjadikan konvensi Partai Demokrat sebagai berita utama. Semua mengulas kiprah dan sepak terjang Obama. Ada yang mendukung. Sebagian menyerang. Ada juga yang menyajikan berita dan ulasan secara berimbang.

Terus terang, kata Indonesia di judul artikel Newsweek tadi langsung menarik perhatian saya. Soalnya selama ini berita tentang Indonesia lebih sering bernada negatif. Kali ini Newsweek mengulas perjalanan Obama, dari bukan siapa-siapa menjadi kandidat presiden Amerika.
Seperti diakui sendiri oleh Obama, masa kecil di Jakarta meski singkat memberi kesan yang mendalam. Pertama, empati terhadap dunia di luar Amerika mulai terbentuk. Obama mengalami kehidupan khas dunia ketiga. Gabungan antara keramahtamahan dan keterbatasan. Pengalaman ini membuka mata Obama tentang profil dunia yang kita diami. Berikut segala perbedaan yang ada di atasnya.
Kedua, kehidupan yang keras di Jakarta merupakan pelajaran pertama Obama tentang survive. Diceritakan betapa Obama sangat berkesan dengan pelajaran bertinju yang diajarkan ayah tirinya Lolo Soetoro. Pentingnya kesiapan untuk mempertahankan diri begitu membekas.
Tentu saja epsisode Jakarta hanyalah sepenggal dari cerita perjalanan Obama yang demikian panjang. Banyak episode lain yang lebih berpengaruh terhadap pola pikir sang kandidat presiden. Namun demikian, satu hal membuat saya sedikit terpana. Pengalaman singkat hidup di Indonesia membuat Obama merasa perlu berbuat sesuatu yang lebih baik. Bagi rakyat Amerika. Juga bagi kemanusiaan.
Kembali ke Indonesia, kita disuguhi hingar-bingar persiapan pemilu tahun depan. Ada teman yang menjadi caleg. Beberapa tokoh mengutarakan keinginannya menjadi presiden.
Alangkah bagusnya jika mereka menoleh sejenak kepada Obama. Pengalaman sekitar tiga setengah tahun hidup di Jakarta dijadikan sumber inspirasi. Semoga pengalaman para politisi kita, yang hidup di Indonesia lebih lama dari Obama, juga menjadi sumber inspirasi. Tentu saja untuk menuju ke arah yang lebih baik. Semoga.

Selanjutnya »»

07 August 2008

Bisakah Obama Berbahasa Indonesia?

Siang ini saya bertemu dengan seorang manager kantor perwakilan maskapai penerbangan salah satu negara Asia di San Francisco. Pertemuannya di rumah makan Borobudur, downtown San Francisco. Meski baru berkenalan, suasana langsung mencair. Penyebabnya, ternyata sang manager ini pernah ditugaskan di Indonesia, dari tahun 1993 sampai 1998. Makan masakan Indonesia akan kembali mengangkat memori yang terendam, kilahnya gembira.

Apalagi selama di San Francisco ia belum pernah bersantap di rumah makan Indonesia. Cepat-cepat ia mengusulkan menu gado-gado. Pedas tidak apa-apa, lidahnya sudah terasah di Jakarta.
Obrolan selanjutnya terasa menyenangkan. Saya terkejut karena sang manager pernah empat tahun tinggal di Jakarta. Ia pun senang karena kerinduannya akan makanan Indonesia terobati.

Ketika ditanya apakah bisa berbahasa Indonesia, sang menjawab sedikit. Banyak yang terlupa. Kemudian, ia menanyakan apakah kira-kira Barack Obama masih bisa berbahasa Indonesia. Mestinya masih bisa karena Obama menghabiskan tiga setengah tahun masa kanak-kanaknya di Jakarta. Bahkan mengenyam pendidikan di sekolah negeri. Ia menjawab sendiri pertanyaannya.
Apalagi memori masa kecil bisanya melekat sampai tua, saya menimpali. Jadi mungkin saja Obama masih ingat bahasa Indonesia. Meski kadarnya juga sedikit dan banyak yang terlupa.
Bagaimana Pak Obama? Anda membaca blog ini? Apa jawaban Anda? Hehehehe....

Selanjutnya »»

16 June 2008

Ke Chicago

Akhir pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Chicago. Waktu berangkat Jumat siang, melihat airport San Francisco yang begitu padat, terbayang perjalanan bakal melelahkan. Maklum, musim panas telah tiba. Sekolah mulai libur. Saatnya keluarga Amerika bepergian ke luar kota.

Seperti biasa, petugas imigrasi menyambut calon penumpang dengan wajah siaga. Sepertinya seluruh calon penumpang pesawat harus dicurigai. Kemanan dibuat berlapis-lapis. Kadang seorang petugas lama tertegun memandang wajah calon penumpang, mencocokannya dengan foto yang terpampang di kartu tanda pengenal atau paspor. Terlebih jika foto di tanda pengenal berkumis tapi aslinya sudah dicukur rapi.


Jika terlihat sesuatu yang mencurigakan, tidak jarang tanda silang ditorehkan di boarding pass. Artinya, calon penumpang harus masuk ke kotak khusus untuk diperiksa secara seksama. Dengan teknologi tertentu, kecurigaan apakah ada yang sesuatu yang membahayakan dapat diketahui di kotak ajaib ini.

Keluar dari kotak, persoalan belum selesai. Sekujur tubuh kemudian dipindai. Perlu dibuktikan sekali lagi, apakah kondisi telah benar-benar aman. Jika terdengar bunyi beep, artinya pemeriksaan lanjutan harus dilakukan. Kadang diikuti dengan wawancara.

Bagi mereka yang boarding pass-nya ditandatangani (tidak dibubuhi tanda silang), tidak perhatian pemeriksaan selesai. Mereka harus menyerahkan barang bawaan untuk dipindai. Sepatu harus dicopot, demikian juga aksesoris yang terbuat dari logam seperti sabuk, arloji, gelang, dan kalung. Laptop juga harus dikeluarkan dari tas.

Ketika memasuki pintu detektor, seluruh aksesoris harus ditanggalkan. Jika ada benda logam yang tertinggal di badan, alarm akan berbunyi. Jika petugas sedang berbaik hati, ia akan mencari tahu sumbernya. Apakah kalung yang lupa dilepas atau arloji yang masih melingkar pergelangan tangan.

Kadang ada juga petugas yang tidak mau repot. Mendengar alarm berbunyi, ia memerintahkan calon penumpang masuk ke kotak detektor. Artinya, masih ada antrian yang harus dilewati.
Lolos dari pemeriksaan keamanaan, persoalan saya belum juga tuntas. Tidak ada nomor kursi di boarding pass yang saya genggam. Instruksinya jelas, silakan hubungi customer service di depan gerbang keberangkatan untuk pengaturan kursi. Melihat suasana airport yang demikian ramai, terbayang antrian panjang yang harus dilewati sekali lagi. Di customer service.

Benar saja, untuk mendapatkan kursi saya harus berdiri mengantri. Ada sekitar sepuluh calon penumpang lain di sepan saya. Jika setiap orang memerlukan waktu tiga menit, hanya harus berdiri sekurang-kurangnya 27 menit.

Untunglah, tidak lama saya berdiri terdengar pengumuman. Tidak perlu mengantri karena calon penumpang yang belum mendapatkan kursi akan dipanggil satu-satu. Saya pun mencari tempat. Belum lagi naik pesawat, capai sudah terasa.

Ketika penumpang dipersilakan naik pesawat, nama saya belum juga dipanggil. Saya tanyakan ke petugas, jawabannya tunggu sampai penumpang terakhir masuk pesawat. Untuk menghibur diri, saya membayangkan hal ganjil: berdiri naik pesawat. Seperti naik bus atau kereta api jika tempat duduk tidak didapat.

Akhirnya nama saya dipanggil juga dan boarding pass tanpa nomor kursi ditukar dengan yang bernomor kursi. Senang rasanya bisa masuk ke pesawat. Lebih senang ketika melihat nomor kursi yang tertera, 8E. Rupanya mereka berbaik hati, saya didudukkan di kelas ekonomi plus. Meski tetap bernama ekonomi, leg room-nya lebih luas. Posisinya juga di bagian pesawat, persis di belakang kompartemen bisnis.

Setelah semua penumpang duduk, pramugari mengabarkan pengumuman pertama hari itu. Pesawat belum bisa berangkat karena pilotnya belum ada. Rupanya pilot yang akan memegang kemudi sebelumnya bertugas di pesawat rute lain di penerbangan sebelumnya. Namun pesawat tersebut terlambat tiba. Akibatnya jadwal penerbangan pesawat yang saya tumpangi tertunda.

Tidak sampai seperempat jam, pilot datang. Karena duduk di dekat pintu pesawat, saya melihat sang pilot tersenyum saat memasuki pesawat yang akan dikenadalikannya. Ia juga minta maaf ke pramugari, karena keterlambatannya menyebabkan jadwal penerbangan terganggu.

Meski permintaan maaf itu tidak ditujukan kepada saya, mulut ini seperti mau mengeluarkan kalimat. Tidak apa-apa, yang pesawat bisa segera terbang.

Ternyata tidak demikian. Perlu sekitar 40 menit untuk menyiapkan pesawat. Hampir satu jam kamu menunggu. Pesawat belum berjalan, badan mulai diserang penat.

Akhrinya pesawat mengudara. Menuju Chicago, kota yang akan saya kunjungi untuk pertama kali.

Pesawat terus membubung tinggi. Melintasi awan. Meninggalkan airport San Francisco.

Selanjutnya »»
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template